Shirako
sains di balik sperma ikan yang dianggap sebagai hidangan tekstur surgawi
Bayangkan kita sedang duduk di sebuah restoran beralaskan tikar tatami yang hangat. Sang koki meletakkan sebuah mangkuk kecil di hadapan kita. Di dalamnya, ada sesuatu yang bentuknya mirip awan putih berlipat-lipat, atau mungkin sekilas menyerupai miniatur otak manusia. Saat kita memberanikan diri menyuapkannya ke dalam mulut, keajaiban terjadi. Benda itu meleleh begitu saja di atas lidah. Teksturnya selembut mentega, rasanya kaya, gurih, dan meninggalkan jejak manis yang ringan di tenggorokan. Kita mungkin akan berpikir, "Wah, ini makanan dari surga." Sampai sang koki tersenyum dan memberitahu kita apa yang baru saja kita telan. Itu adalah shirako. Atau dalam bahasa yang lebih harfiah: kantung sperma ikan. Tiba-tiba, otak kita berhenti memproses rasa dan mulai memproses realita. Pernahkah kita bertanya-tanya, bagaimana bisa sesuatu yang secara konsep terdengar begitu ekstrem, justru diagungkan sebagai salah satu puncak kenikmatan kuliner?
Reaksi pertama yang muncul di kepala sebagian besar dari kita mungkin adalah rasa geli atau bahkan penolakan. Ini adalah hal yang sangat manusiawi. Dalam psikologi evolusioner, manusia memiliki mekanisme pertahanan yang disebut disgust response atau respons jijik. Otak kita diprogram untuk menolak hal-hal yang berkaitan dengan cairan tubuh karena secara historis, itu adalah cara nenek moyang kita menghindari penyakit. Namun, sejarah kuliner manusia adalah sejarah tentang mendobrak batas rasa jijik tersebut demi bertahan hidup, dan akhirnya, demi kenikmatan. Di Jepang, kantung sperma ikan kod, anglerfish, atau ikan buntal ini diberi nama yang cukup puitis: shirako, yang berarti "anak-anak putih". Sejak zaman Edo, hidangan ini perlahan naik kasta dari sekadar makanan sisa para nelayan menjadi simbol status di meja makan kaum elit. Teman-teman, ada sebuah fenomena psikologis menarik di sini yang disebut acquired taste. Ketika sebuah budaya memberi nilai tinggi pada sesuatu yang tabu atau aneh, otak kita perlahan belajar untuk mengabaikan sinyal jijik dan mulai mencari sisi eksklusivitasnya. Tapi, apakah shirako ini hanya sekadar gimmick kuliner untuk pamer status?
Jika ini hanya soal pamer, tren shirako pasti sudah mati ratusan tahun yang lalu. Nyatanya, para kritikus makanan dan koki kelas dunia hingga hari ini masih memujanya. Mereka mendeskripsikan teksturnya bak custard paling mahal di dunia. Tidak amis, tidak amis sama sekali jika disajikan segar. Ada sebuah misteri besar yang tersimpan di dalam lipatan-lipatan putih tersebut. Bagaimana mungkin sebuah organ reproduksi, yang tugas utamanya adalah membuahi telur di laut lepas yang dingin, bisa memiliki tekstur yang menyaingi keju brie kualitas terbaik saat masuk ke mulut manusia yang bersuhu 37 derajat Celcius? Ada sebuah desain biologis yang sangat spesifik di balik kantung mani ikan ini. Rahasia yang melibatkan perpaduan sempurna antara air, lemak, dan semacam "katalis rasa" yang secara tidak sengaja meretas reseptor lidah kita. Kita akan membedah anatomi kenikmatan ini sesaat lagi, dan bersiaplah, karena jawabannya murni berada di ranah kimia.
Mari kita bedah sains di balik tekstur surgawi ini. Kantung sperma ikan atau milt pada dasarnya adalah wadah penampung cairan mani dan spermatozoa. Mengapa teksturnya begitu creamy dan mudah meleleh? Pertama, ini soal termodinamika dan komposisi lemak. Shirako sangat kaya akan fosfolipid, yakni jenis lemak spesifik yang membentuk membran sel. Lemak jenis ini, ditambah dengan tingginya kandungan asam lemak Omega-3 (seperti EPA dan DHA), memiliki titik leleh yang sangat rendah. Di suhu lautan yang dingin, lemak ini tetap stabil. Namun begitu menyentuh suhu tubuh di dalam mulut kita, dinding-dinding sel pelindung ini langsung runtuh dan meleleh seketika, menciptakan sensasi lumer yang luar biasa halus. Kedua, mari bicara soal rasa. Cairan mani ikan memiliki rasio air dan protein yang sangat padat. Salah satu asam amino yang paling melimpah di dalamnya adalah asam glutamat. Teman-teman pasti familiar dengan nama ini; ya, ini adalah bahan dasar pembentuk rasa umami atau gurih alami yang sering kita temukan di kaldu atau MSG. Jadi, ketika dinding sel shirako meleleh di lidah, ia melepaskan "bom" asam glutamat secara langsung ke reseptor pengecap kita. Otak kita tidak lagi mempedulikan dari mana asal makanan ini, ia hanya menerima sinyal kimiawi berupa lemak sehat dan umami yang berteriak: "Ini sangat lezat dan bernutrisi!"
Mempelajari shirako sebenarnya memberi kita sebuah lensa empati yang baru dalam memandang makanan. Seringkali, batas antara apa yang kita anggap menjijikkan dan apa yang kita anggap sebagai mahakarya kuliner hanyalah ilusi yang diciptakan oleh kebiasaan dan batasan geografis. Jika kita mau berpikir sedikit lebih kritis, bukankah kita sudah sangat terbiasa menggoreng dan memakan telur ayam setiap hari? Secara biologis, itu adalah ovum atau sel telur reproduksi betina. Mengapa memakan sel telur dianggap normal, sementara memakan sel sperma terdengar seperti ide yang gila? Pada akhirnya, alam semesta bekerja dengan cara yang sangat efisien dan terkadang penuh kejutan. Sains membuktikan bahwa kelezatan tidak selalu datang dari tempat yang kita harapkan. Terkadang, ia datang dalam bentuk awan putih kecil dari dasar laut, menunggu dinding selnya dilelehkan oleh kehangatan manusia. Semoga cerita hari ini tidak hanya membuat kita lapar (atau mungkin sebaliknya), tetapi juga membuat pikiran dan lidah kita lebih terbuka terhadap misteri sains di piring makan kita sendiri.